SEKILAS
PANDANGAN PENANAMAN MORAL GURU
Sekedar
berbagi pengalaman dan merangkum hasil pengamatan dari para pemerhati
pendidikan. Berprofesi sebagai guru memang bukan hal yang sederhana yang hanya
bermodalkan kata-kata saja tanpa nilai. Kedudukan guru sebagai agensi moral
merupakan keadaan yang tak terelakakn yang setiap kali guru, sebagai sosok
bermoral,membawa diri di sekolah, dengan jujur, rasa tidak memihak,berintegritas,simpatik,sabar,
hormat, tanpa prasangka, penuh perhatian, berdidikasi dan kebajikan-kebajikan
lainnya. Keduduka guru sebagai agen moral tersebut juga terlihat ketika guru,
sebagai pendidik moral, menghimbau siswa
agar para siswa menunjukan prilaku kebajikan tersebut (Larry, 2015). Guru
sebagai agen moral Johnston& Buzzelli (2000) menurut pandangan ini,
mengajar adalah aktivitas yang melibatkan kesadaran akan pentingnya
pilihan-pilihan seorang dan bagaimana pilihan-pilihan tersebut mempengaruhi
perkembangan dan kesejahteraan orang lain. Kesadaran akan moral seseorang
memperluas pemahaman mengenai pekerjaan itu (hal 120). Tingkat kesadaran ini
tertanam ketika guru mengembangkan kapasitas untuk mengidentifikasi bagaimana nilai-nilai
dan asas-asas moral dan etika di conntohkan atau dikikis melalui tindakan,
ucapan, pilihan, dan niat mereka sendiri. Ironisnya, meski memiliki karakter
ynag menonjol, banyak pengamat mengatakan bahwa pendidikan belum memiliki “bahasa
etika atau bahasa moral.Kita sering menemukan contoh sederhana bagaimana guru
mengunakan etika dalam berbicara dikelas seperti yang yang dikutip dari
johnston (2003).
Contoh
Guru pertama:
Kehadiran di kelas sangat penting,
tidak ada alasan untuk tidak masuk, kalau kalian terlambat akan di berikan
sangksi, kalian harus duduk di kursi yang sudah di siapkan. Jangan terlambat
kalau terlambat 10 menit kalian di anggap tidak hadir (johnston et al.1998)
dan
contoh yang kedua:
Guru : Ok, pertama-tama (baca dari
buku) setiap kamu menghidupkan penghapus kaca mobil kamu juga harus
menghidupkan lampu mobil.Bagaimana menurutmu?betul atau salah?
Murid : salah
Guru: salah?ada pendapat lain?M
mengatakan salah. Bagaimana menurut P.Ok P mengatakan salah juga, dua orang
menagatakan salah. Saya tanya ketika hujan apakah kamu menghidupkan penghapus
kaca mobil dan lampu mobil?
Murid : ya.
Dari
contoh yang pertama guru dengan sama sekali tidak memberikan kebebasan kepada
siswanya untuk berpendapat, dia hanya menghujani siswa dengan apa yang
menurutnya baik, tetapi tidak ada demokrasi di dalam siswa. Sementara guru
kedua memberikan kesempatan bagi siswa untuk berpendapat dan berpikir tanpa
menyalahkan tapi memberikan arahan untuk mereka berpikir.Itulah fakta moral
yang guru sendiri tidak sadari, sehingga siswa-siswa terbentuk pikirannya hanya
dengan mendengar apa ynag dikatakan oleh guru tanpa ada kebebasan untuk
berpendapat atau menentukan pilihan.
Kesimpulannya,
keagenan moral mungkin saja di pahami secara umum dalam hubungannya dengan
bukan hanya apa yang guru-guru ajarkan kepada siswa dengan sarana kurikulum
langsung tetapi juga secara lebih signifikan apa yang di lakukan oleh guru
sendiri sebagai ahli profesi etika di dalam kelas serta kebajikan dan asa moral
yang mereka cerminkan sehingga teladankan bagi siswa sehari-hari (Nash 2005)mengatakan
bahwa tempat yang kita sebut sekolah itu sebuah lingkungan berinteraksi moral
dan kadang-kadang perjuangan moral sehingga kemampuan anak-anak untuk
mengembangkan moral sangat tergantung
bagaimana orang dewasa disekitar mereka meneladankan perilaku etika dan
penalaran etika. Pada dasarnya kelakuan guru, sepanjang waktu dan dengan cara
apapun, meruakan persoalan moral (hal 4)
REFERENSI:
Johston
(2003) Values in language English Teaching: London: Mahwah new Jersey
Larry&Darcia
(2015) Handbook Pendidikan Moral dan Karakter. Bandung: Nusa Media
Nash,
R.J (2005) Foreword, in B.zubay&J.F Soltis (Eds), creating the ethical
school : A book of case studies. New York: Teacher college press.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar