Kamis, 22 Maret 2018

all about mind

all about mind

It is impossible to know people's mind, we just can guess it with what in our mind, and we think that what is our mind is right,don't be so silly, we still have a little bit chance to know people mind, by seeng their reflection, it be shown by their words sometime, and their act, but it is just a little, well, just use our words as our reflection in order they can see a little of our mind.


SEKILAS PANDANGAN PENANAMAN MORAL GURU
Sekedar berbagi pengalaman dan merangkum hasil pengamatan dari para pemerhati pendidikan. Berprofesi sebagai guru memang bukan hal yang sederhana yang hanya bermodalkan kata-kata saja tanpa nilai. Kedudukan guru sebagai agensi moral merupakan keadaan yang tak terelakakn yang setiap kali guru, sebagai sosok bermoral,membawa diri di sekolah, dengan jujur, rasa tidak memihak,berintegritas,simpatik,sabar, hormat, tanpa prasangka, penuh perhatian, berdidikasi dan kebajikan-kebajikan lainnya. Keduduka guru sebagai agen moral tersebut juga terlihat ketika guru, sebagai pendidik  moral, menghimbau siswa agar para siswa menunjukan prilaku kebajikan tersebut (Larry, 2015). Guru sebagai agen moral Johnston& Buzzelli (2000) menurut pandangan ini, mengajar adalah aktivitas yang melibatkan kesadaran akan pentingnya pilihan-pilihan seorang dan bagaimana pilihan-pilihan tersebut mempengaruhi perkembangan dan kesejahteraan orang lain. Kesadaran akan moral seseorang memperluas pemahaman mengenai pekerjaan itu (hal 120). Tingkat kesadaran ini tertanam ketika guru mengembangkan kapasitas untuk mengidentifikasi bagaimana nilai-nilai dan asas-asas moral dan etika di conntohkan atau dikikis melalui tindakan, ucapan, pilihan, dan niat mereka sendiri. Ironisnya, meski memiliki karakter ynag menonjol, banyak pengamat mengatakan bahwa pendidikan belum memiliki “bahasa etika atau bahasa moral.Kita sering menemukan contoh sederhana bagaimana guru mengunakan etika dalam berbicara dikelas seperti yang yang dikutip dari johnston (2003).
Contoh Guru pertama:
Kehadiran di kelas sangat penting, tidak ada alasan untuk tidak masuk, kalau kalian terlambat akan di berikan sangksi, kalian harus duduk di kursi yang sudah di siapkan. Jangan terlambat kalau terlambat 10 menit kalian di anggap tidak hadir (johnston et al.1998)
dan contoh yang kedua:
Guru : Ok, pertama-tama (baca dari buku) setiap kamu menghidupkan penghapus kaca mobil kamu juga harus menghidupkan lampu mobil.Bagaimana menurutmu?betul atau salah?
Murid : salah
Guru: salah?ada pendapat lain?M mengatakan salah. Bagaimana menurut P.Ok P mengatakan salah juga, dua orang menagatakan salah. Saya tanya ketika hujan apakah kamu menghidupkan penghapus kaca mobil dan lampu mobil?
Murid : ya.
Dari contoh yang pertama guru dengan sama sekali tidak memberikan kebebasan kepada siswanya untuk berpendapat, dia hanya menghujani siswa dengan apa yang menurutnya baik, tetapi tidak ada demokrasi di dalam siswa. Sementara guru kedua memberikan kesempatan bagi siswa untuk berpendapat dan berpikir tanpa menyalahkan tapi memberikan arahan untuk mereka berpikir.Itulah fakta moral yang guru sendiri tidak sadari, sehingga siswa-siswa terbentuk pikirannya hanya dengan mendengar apa ynag dikatakan oleh guru tanpa ada kebebasan untuk berpendapat atau menentukan pilihan.
Kesimpulannya, keagenan moral mungkin saja di pahami secara umum dalam hubungannya dengan bukan hanya apa yang guru-guru ajarkan kepada siswa dengan sarana kurikulum langsung tetapi juga secara lebih signifikan apa yang di lakukan oleh guru sendiri sebagai ahli profesi etika di dalam kelas serta kebajikan dan asa moral yang mereka cerminkan sehingga teladankan bagi siswa sehari-hari (Nash 2005)mengatakan bahwa tempat yang kita sebut sekolah itu sebuah lingkungan berinteraksi moral dan kadang-kadang perjuangan moral sehingga kemampuan anak-anak untuk mengembangkan  moral sangat tergantung bagaimana orang dewasa disekitar mereka meneladankan perilaku etika dan penalaran etika. Pada dasarnya kelakuan guru, sepanjang waktu dan dengan cara apapun, meruakan persoalan moral (hal 4)

REFERENSI:
Johston (2003) Values in language English Teaching: London: Mahwah new Jersey
Larry&Darcia (2015) Handbook Pendidikan Moral dan Karakter. Bandung: Nusa Media
Nash, R.J (2005) Foreword, in B.zubay&J.F Soltis (Eds), creating the ethical school : A book of case studies. New York: Teacher college press.